pengaruh cuci darah terhadap tubuh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

pengaruh cuci darah terhadap tubuh

Post  keperawatan medikal bedah on Mon Feb 25, 2013 8:34 am

Perkembangan teknologi dan industi telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya polusi lingkungan, tanpa disadari perubahan tersebut memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular.

Berdasarkan data Depkes RI diketahui 10 penyebab kematian terbanyak penyakit tidak menular sebagai berikut stroke (4,87%), perdarahan intrakranial (3,71%), septisemia (3,18%), gagal ginjal (3,16%), jantung (2,67%), diabetes melitus (2,16%), hipoksia intrauterus (1,95%), radang susunan saraf (1,86%), gagal jantung (1,77%) dan hipertensi (1,62%) (Depkes RI, 2007).

Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup bergantung pada cuci darah. Sementara itu, di Indonesia, saat ini terdapat sekitar 70.000 penderita gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah (Siswono, 2008). Kasus gagal ginjal di Jawa Tengah yang tertinggi adalah kota Surakarta 1497 kasus (25.22 %) dan yang kedua adalah Kabupaten Sukoharjo yaitu 742 kasus (12.50 %) (Dinkes Jateng, 2008).

Di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan untuk kasus gagal ginjal kronik pada tahun 2009 sebanyak 139 kasus. Gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang menakutkan bagi sebagian masyarakat, karena pasien harus menjalani cuci darah (hemodialisa) sebagai salah satu pengobatannya. Pasien yang menjalani tindakan hemodialisa lebih dari 20 kali seringkali mengalami berbagai keluhan kesehatan karena hal-hal berikut ini yaitu masalah akses vaskuler, lamanya tindakan hemodialisa dan akibat yang dirasakan saat hemodialisa berlangsung seperti kram otot, hipotensi, sakit kepala, mual, muntah dan nyeri dada (Situmorang, 2007).

Penyakit gagal ginjal sendiri merupakan salah satu penyakit yang terjadi akibat gangguan fungsi ginjal dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dalam darah sehingga terjadi uremia. Penyakit gagal ginjal kronik banyak diderita oleh orang-orang yang mempunyai pola hidup yang tidak sehat, seperti merokok, terlalu banyak minum alkohol, serta memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya. Penderita gagal ginjal kronik membutuhkan penanganan khusus di rumah sakit, yaitu mendapatkan pelayanan cuci darah / hemodialisis setiap minggunya. Jika penderita gagal ginjal tidak mendapatkan perawatan ini, maka bisa dipastikan tubuhnya akan mengalami keracunan dan dapat mengakibatkan kematian.

Efek cuci darah dapat juga menimbulkan beberapa dampak antara lain dampak fisik menjadikan klien lelah dan lemah sehingga mengakibatkan penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, menyebabkan keterbatasan dalam bekerja, dan keterbatasan melakukan kegiatan seperti sebelum melakukan cuci darah (hemodialisa), pasien yang menderita gagal ginjal kronik pun akan cenderung lebih mudah lelah sehingga tidak akan mampu bekerja dalam waktu lama (hemodialisis) dampak sosial dan dampak psikologis yaitu kecemasan. Dampak psikologis yang dirasakan pasien seringkali kurang menjadi perhatian bagi para dokter ataupun perawat. Pada umumnya, pengobatan di rumah sakit difokuskan pada pemulihan kondisi fisik tanpa memperhatikan kondisi psikologis pasien seperti kecemasan dan depresi (Canisti, 2008).

artikel
RSU Santa Maria 2009

keperawatan medikal bedah

Jumlah posting : 2
Points : 2872
Reputation : 0

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik