The House of Scorpion

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

The House of Scorpion

Post  Admin on Thu Aug 27, 2009 12:19 pm

edisi 28-07-2008

Fiksi Ilmiah Tentang Kemanusiaan

Bayangkan, sebuah jaman di masa depan, saat dunia sudah semakin tua, saat teknologi sudah mencapai tingkatannya sedemikian rupa, sehingga seorang manusia serakah kaya raya bisa hidup sampai 140-an tahun. Semua itu dimungkinkah dengan pencapaian teknologi kloning, yang menyebabkan manusia dapat dengan mudah menciptakan jasad lain yang identik dengan dirinya hanya untuk dijadikan suku cadang bagi organ tubuhnya yang semakin tua. Matt adalah onderdil itu!

Seorang saudagar sangat kaya, hampir mencapai cita-citanya untuk memiliki 9 nyawa, seperti kucing yang diagung-agungkan dalam sejarah mesir Kuno. Seperti legenda Firaun itu juga, saudagar kaya itu sangat berkuasa, layaknya penguasa di sebuah negri antara Mexico lama dengan Amerika Serikat. Berkuasa penuh terhadap semua aspek kehidupan kaumnya, paling tua, dan sangat ditakuti, dia bahkan dapat membuat hukum bagi dirinya sendiri.

Bayangkan, suatu masa, dimana teknologi kloning sudah sangat relevan. Dengan sejumlah peraturan yang membatasi, kloning akhirnya dianggap menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup. Aturannya adalah, siapa yang membuat kloning untuk onderdil dirinya, maka onderdil itu harus dirusak otaknya, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai manusia, namun barang! Onderdil hidup!

Bayangkan pula bahwa Matt adalah pengecualian. Matt tidak diganggu otaknya, dirawat secara baik, diberi pendidikan dan kemampuan intelektual lain, sampai Matt sendiri pada mulanya merasa dirinya bukan onderdil. Matt bahkan menyayangi lelaki tua yang baik yang memiliki banyak kemiripan dengan dirinya itu.

Matt tidak menyadari dirinya adalah clone ke 9 dari tuannya. Matt merasa berbeda dengan clone-clone yang lain. Matt bahkan kasihan pada eejip – manusia atau hewan yang sudah dipasangi chip di otaknya, sehingga hanya dapat melakukan hal-hal tertentu yang sudah diprogram, dan tidak akan berhenti sebelum disuruh berhenti, sampai mati.

Kisah hidup si Kloning Matt, dari setetes, menjadi manusia, dijadikan anak mas oleh tuannya, hampir mati, melarikan diri, tertangkap sindikat anak yatim piatu dan akhirnya bebas, menghadapi hidupnya sebagai manusia utuh, sampai akhirnya mewarisi semua kekayaan yang dimiliki lelaki tua asal klone-nya, sangat menarik untuk dibaca.

Sebagai orang yang sebelumnya menyetujui pencapaian teknologi kloning untuk kemanusiaan, buku ini berhasil memaksa saya untuk merenungkan kembali pendapat saya itu. The House of Scorpion sangat cerdas menggambarkan aspek kemanusian yang mengerikan yang dialami seorang clone yang dibiakkan di rahim lembu. Kemungkinan-kemungkinan mengerikan digambarkan secara nyata di buku ini yang akhirnya mengoyak-ngoyak logika yang ada sekarang. Hukum tidak ada artinya bila industri menguasai dunia. Tidak ada moral lagi kalau harta sudah berkuasa. Agama dapat dibeli. Semua perbuatan oleh siapa saja bahkan dapat dipengaruhi oleh politik. Dimana kemurnian yang sesungguhnya? Bahkan paduan suara yang mengiringi pendeta dalam melakukan upacara keagamaan juga adalah eejip! Begitu juga dengan pengirim pengantin wanita. Karena “manusia tidak pernah bisa melakukan sebuah tugas dengan sempurna”

The House of Scorpion berhasil menghadirkan sebuah khayalan masuk akal yang paling mengerikan tentang kekejaman seorang manusia. Manusia kloning dan para eejip bahkan bukan diangap manusia, tidak apa-apa kalau diperbudak, jangan mimpi diperlakukan secara manusiawi. Namun sampai mana ‘kemanusiawian’ itu sendiri punya batas? Maria, salah satu tokoh yang menyayangi Matt bahkan sering memperlakukan dia secara tidak manusiawi menurut ukuran kita sekarang hanya karena dia kloning. Panggilan ‘Babi’, ‘Zombi’ sudah biasa diterima Matt dari Maria – cinta sejatinya. Bahkan, manusia kloning kadang kala lebih bermoral dari pada manusia original. Moralitas dipertanyakan. Mana yang paling hakiki, jiwa yang murni atau badan yang asli? Anda akan bertanya pada diri anda sendiri.

The House of Scorpion bertempo cepat, tegang, detail mengagumkan, riset mendalam, penokohan sangat nyata dan berhasil membawa pembaca langsung masuk ke zaman di masa depan di tempat si raja opium berbiak seperti kalajengking yang mematikan. Tidak heran kalau suatu saat buku ini difilmkan, semua aspek mendukung ke sana. Tidak hanya mengasyikkan, The House od Scorpion secara cerdas membangun opini bagi pembacanya. Setidaknya, ada secuil kontroversi yang akan tertinggal usai membaca kisah ini.

Namun The House of Scorpion juga sebuah kisah yang miris dan ironis. Perjuangan sejati makluk buatan manusia yang sudah diracuni, dalam menggapai kebebasannya. Bahkan secara ironis, makluk buatan (yang mewarisi kecerdasan tuannya) ini akhirnya memperjuangkan kemanusiaan kaumnya/teman-temannya (para yatim piatu) sekaligus menjadi martil bagi mereka.

The House of Scorpion sangat memikat! Tajam, cerdas dan mengasikkan. Petualangan abad-abad depan tidak sekelam seperti yang dimaksudkan. Membaca buku ini, tidak hanya terhibur, lebih lagi, anda akan membacanya dengan hati nurani yang paling dalam, sampai terasa seakan ‘kasus majalah playboy tidak ada apa-apanya lagi………”

(ebooks, Kevin Lubis, 23 April 2006)

Admin

Umur : 37
Jumlah posting : 193
Points : 6035
Reputation : 0
Lokasi : Temanggung

Lihat profil user http://temanggung.forumotion.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik